Cowok Ngerasa Nggak Sih kalo Rumah Kotor?

Sebuah curhatan perempuan yang sering banget melihat para cowok bisa melenggang tanpa mesti beberes rumah. Nggak ada intensi untuk jadi seksis, cuma luapan hati aja yaa dear readers.

Curhat dong, Maah! Emang bener ya, kebanyakan cowok tuh ga peduli ya sama rumah berantakan?

(mungkin) kata sebagian bapak-bapak waktu diminta istri beberes

I. Being tidy is being in control

Waktu baru merantau dengan bayi dan tanpa ART, salah satu yang sering diingetin sama temen-temen saya adalah adanya segitiga rumah tangga: rumah rapi, anak terurus, dan istirahat cukup. You can only choose two. Kebanyakan teman dengan kondisi serupa memilih dua yang terakhir. Rumah berantakan, ya udahlah.

Sialnya, saya kok ngga bisa ya rumah berantakan? Hahaha. Stres banget jadinya. Jadilah saya memilih rumah rapi dan anak terurus, istirahat nanti aja deh sesempetnya. Selain karena berantakan = debu = asma gampang kumat, rasanya kok hidup out of control aja kalo rumah nggak keurus. Dengan perubahan badan, hormon, dan psikis yang tak tertebak pasca lahiran, punya rumah rapi adalah suatu pembuktian bahwa saya masih bisa mengontrol sesuatu.

Suami juga ambil peran sih, tapi semenjak kesibukannya meningkat, akhirnya sayalah yang kebanyakan ngurus rumah (balada WFH ya bund). Saya sering menuntut: kamu juga ambil peran dong! Tapi ya nggak realistis; dia pulang aja badannya udah rontok, besokannya pergi pagi lagi… mau nggak mau akhirnya saya lebih legowo.

II. Are men taught to be indifferent about their own houses?

Saya hidup dengan para lelaki yang manja. Alm Bapak hampir gak pernah beberes, sesimpel naro piring ke dapur. Dia juga nggak pernah nyuruh saya atau adik beres-beres, bantu tugas domestik ini-itu. Begitu pula para om, dan para sepupu cowok.

Bahkan ketika cari gambar dengan kata kunci “chores”, yang muncul mayoritas ya gambar ibu-ibu

Untungnya ibu saya masih bawel (walopun ya sexist, “anak perempuan kok rumahnya berantakan!”), jadi saya masih ngerti lah basic pekerjaan rumah tangga. Di usia remaja juga saya mulai ngerasa, lah ini laki-laki enak bener idupnya kagak pernah beberes?!

Sejak bapak tiada ketika saya SMA, saya otomatis nggak pernah lagi hidup bareng laki-laki. Rumah senantiasa rapi. Waktu kuliah, kalo main ke kosan temen cowok bawaannya jijik karena berantakan dan kotor. Hii, saya nggak mau punya suami anak manja yang nggak ngerti ngurus rumah!

Ketika kerja dan tinggal bareng rekan setim di Alor, kebanyakan adalah TNI yang nurut aja dikasih piket beberes dan masak. Pada jago pula. Saya pun bertekad, kalo nikah, suami saya juga mesti ngerti nih ngurus rumah. Untungnya saya ketemu D yang keluarganya juga lumayan bagi-bagi tugas domestik, plus sempat sekolah di asrama semi-militer pula.

Apakah masalah selesai? Tidak semudah itu. D bisa ngurus rumah, jauh lebih ok daripada laki-laki di keluarga saya, tapi belum tentu otomatis beberes HAHA. Standarnya beda. Istri ngomel tentang tugas domestik ya pernah banget. Nggak ngerasa apa rumahnya kotor? Ini belum masuk sesi “menyamankan rumah” ya, dengan masukin furnitur dan dekor ini-itu hahaha.

Tapi lucunya, bapak mertua saya tuh rapihan banget. Beliau yang bertugas nyapu ngepel di rumah, sementara ibu mertua bilang, “ibu sih nggak bisa nyapu ngepel kayak Bapak, Mbak.” Lho, nurture-nya D gini lho padahal.

Sampe akhirnya saya cari risetnya…

III. Societal pressure towards men and women are different when it comes to clean houses

thus, even when men do their chores, women still do at least one hour more domestic work per day.

Bukannya cowok nggak ngeliat rumah berantakan sementara cewek lebih peka. Tapi, standar mereka memang beda karena masyarakat nggak menuntut mereka untuk punya rumah bersih. Apalagi di Indonesia ya. Kalo berantakan, antara ibu-ibu yang beresin atau ART sekalian.

Kenapa D nggak otomatis beberes? Mungkin karena dia nggak dituntut demikian walaupun lihat bapaknya nyapu ngepel tiap hari. Maka dia pun bisa, tapi standar yang diterapkan untuknya ya nggak kayak dari ibu ke saya.

Studi WHO di beberapa negara menemukan bahwa 91% perempuan dengan anak menghabiskan setidaknya sejam untuk tugas domestik dibanding 30% laki-laki. Data lain menunjukkan perempuan pekerja rata-rata menghabiskan 2,3 jam untuk tugas domestik sementara laki-laki pekerja menghabiskan 1,6 jam saja. Pantes encok ya buu.

Belum lagi faktor kultural di Indonesia: bantuan dari eksternal keluarga amat banyak. Masyarakat enabling cowok nggak terlibat karena ada ART atau pihak keluarga yang bisa bantu.

About 91 % of women with children spend at least an hour per day on housework, compared with 30 % of men with children. The latest available data shows that employed women spend about 2.3 hours daily on housework; for employed men, this figure is 1.6 hours.

IV. We do need change from MEN in the house!

Well I demand change especially in my own household HAHA. Riset menunjukkan, mekanisme primer untuk mengubah pembagian tugas rumah tangga adalah dengan warisan dari satu generasi ke generasi lain, terutama dari bapak ke anak laki-laki.

Saya dan D harus terus mencontohkan A dan perlahan memberinya tugas rumah tangga. Dia harus bisa dan biasa ngurus rumah. Saya nggak ingin A jadi bujangan yang jorok dengan ruang tak terurus. Lebih parah, jika dia memutuskan menikah, menjadi beban istri karena nggak bisa beberes. Jangan gitu ya, A sayang.

Thank you juga Montessori yang bikin saya makin mantap melibatkan si anak lanang dalam semua kerjaan rumah tangga. Dia sudah bantu saya metik bayam buat masak sejak usia 8 bulan dan sekarang lagi gemar banget bantu masukin cucian kotor ke mesin cuci. Jangan takut libatkan anak sejak dini dan berikan rasa memiliki: rumahnya adalah ruangan miliknya juga; kalo kotor, kan risih dan nggak enak.

Dear A, semoga generasimu lebih adil dalam pembagian tugas rumah tangga, karena sejatinya tidak ada gender yang dikodratkan untuk beberes sendiri saja.

2521: An Ode To The Past

Sambil mengisi break tadi siang, saya iseng browsing Netflix saking bosan gak tahu mau ngapain. Tiba-tiba saya terbersit untuk melanjutkan 2521 karena kok banyak orang yang review bagus. I watched a few episodes before, but did not continue because 39 absorbed all my attention hahaha.

Ok deh, saya nonton… loh kok tahu-tahu udah tamat aja dalam sehari? Hahaha. Duh, drama bagus tuh ya bikin nambah mulu jatah nonton sehari. Banyak yang kecewa dengan endingnya, tapi saya suka banget! Real life kinda ending yang yaa… hidup memang begitu. Seperti You Are The Apple of My Eye, atau On Your Wedding Day, protagonis cewek dan cowok tidak selalu harus bersama.

Dan buat saya pribadi, alur hidup seperti itu tuh nyata banget. Ketemu orang di masa kita bertumbuh, pada satu titik hubungan jadi jenuh, dan lebih mudah memutuskan untuk berhenti tumbuh bersama.

On growing in a relationship

Sebelum ketemu D, saya pernah ada di beberapa hubungan yang kayaknya bisa dianggap lumayan prospektif. Tapi toh ternyata putus juga.

Yang lucu adalah waktu saya emang jadi wartawan kayak Yijin.

Pacar sih ada, tapi nggak pernah ketemu saking kerja 24/7 :)) Udah selesai liputan, lagi santai di kantin, tau-tau jam 10 malam disuruh liputan kecelakaan? Ya pernah. Dinasehati editor senior jangan lupa pacaran karena banyak yang berujung nggak nikah sampe tua? Pernah juga. Tapi ya gimana, namanya kudu kerja. Saya lebih sering ketemu temen-temen senasib di kantor dan hang out bareng, sampe akhirnya ya udahlah putus aja, ngapain juga pacaran cuma ngabisin energi HAHAHA.

Dan lucunya, setelah nikah, saya sempet sampe lupa nama mantan karena yaaa udah di masa lalu banget. Beneran udah hidup di masa kini tanpa sempat nengok masa lalu, karena saat ini sudah paling nyaman.

Mungkin karena itulah saya pengen bilang “I feel you” ke Yijin sama Heedo. Manusia pasti terus berubah; bertambah dewasa, bertambah banyak konsiderasi dan pemikirannya. We are not the same person we were before.

Terima kasih ya, 2521, sudah memberi setitik hiburan di masa-masa ini ❤

Perjalanan Mencari Daycare untuk Batita

Sejak baca blog Teh Icha bertahun-tahun lalu–bahkan saya belum nikah–dan melihat pengalaman positif anaknya di daycare, saya memantapkan diri untuk menjadi #teamdaycare. Alhamdulillah saya bisa pegang A sendiri sampai usia 16 bulan. Ketika saya mulai bekerja lagi, opsi daycare pun menjadi pilihan utama karena kok saya punya trust issue sama nanny.

Karena kami tinggal di kota kecil, saya pun menyesuaikan ekspektasi. Tentu maunya daycare montessori dengan kunjungan dokter anak dan psikolog tiap bulan. Biaya sampai 1/2 gaji pun ya sudahlah saya terima. Tapi yhaaa di sini nggak ada yang begitu :))

Kurikulum daycare

Kebanyakan daycare adalah daycare rumahan yang nggak punya aktivitas penuh. Anak-anak ya main-main, kadang ada program agama seperti ngaji, sholat dhuha jamaah. Di daycare yang lebih besar, biasanya di bawah naungan yayasan, biasanya ada sesi untuk merangsang motorik halus seperti merobek kertas, menggambar, dan sebagainya.

Jujur saya dan D yang awalnya ambi justru jadi tersadarkan. Iya ya, anak-anak ya tugasnya main. Ada sesi belajar singkat, alhamdulillah… tapi anak seusia A ya belum butuh. Yang ia butuhkan adalah pelampiasan energi (alias lari-lari!), rangsangan motorik dari kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, bongkar ini-itu…

The search

Mulailah saya browsing dan intip IG masing-masing daycare. Banyak yang nggak aktif dan susah ditelepon. Akhirnya saya mengerucutkan pencarian ke tiga daycare dengan review paling lumayan: dua daycare di bawah naungan yayasan dan satu daycare rumahan.

Melihat fasilitas dan kesiapan pengasuh, kami memutuskan untuk mempercayakan A di daycare yayasan dengan fasilitas paling lengkap. Konsepnya mirip sekolah alam. Halamannya luas, ada kolam ikan, banyak mainan, sirkulasi udara juga bagus. Daycare terletak satu komplek dengan TK dan SD, namun gedungnya terpisah seperti rumah sendiri. Cocok deh A si anak outdoor di sana.

Pengasuh serta kepala sekolahnya sabar dan lembut-lembut (agak kontras dengan karakter orang sini yang memang agak keras). Ketika survey, A bisa dibujuk dan ikut main ke dalam ruangan. Bismillah, kita coba masuk sini.

Biaya daycare

Dari survey, kebanyakan daycare di sini menetapkan harga antara Rp 900.000-Rp1.200.000 per bulan. Ada daycare yang juga memberlakukan uang pangkal/uang gedung seharga Rp 2.500.000 yang bisa dicicil. Ini masuk budget kami banget, karena jujur tadinya saya mengira harganya mirip-mirip sama Jakarta. Yeay, Ibu can save her money!

Hari-hari di daycare sekolah

Kita berencana, anak menentukan.

Di masa-masa adaptasi, A memang selalu menangis dan jadinya lebih riwil ketika di rumah. Yang bikin sedih juga ternyata dia digigit banyak sekali nyamuk, sampai kayak campak! Kami lupa, halaman luas juga bisa mengundang nyamuk berkeliaran. Saya sampai pakai minyak sereh saking repellant bayi sudah enggak mempan.

Satu hal yang kemudian jadi perhatian saya: rentang usia anak daycare amat luas, dari bayi 3 bulan sampai 4 tahun. Perhatian pengasuh cenderung terpecah. Apalagi, dengan luasnya halaman, anak berkelana ke mana-mana. Pernah tuh saya lagi jemput A, ada anak yang “ngilang” sebentar, datang-datang sudah basah kuyup karena nyebur kolam ikan. Ternyata, fasilitas lengkap dan halaman luas ini justru bisa jadi bumerang.

Satu demi satu hal yang kurang sreg di hati kami pun datang. Ada yang bisa ditelan, ada yang membuat saya mempertanyakan ulang keputusan daycare di tempat ini. Misalnya, teman A yang suka main fisik: dorong, pukul, dsb. Memang fasenya dia belajar. Memang para pengasuh berupaya sebisa mungkin membantunya regulasi emosi. Tapi kan saya takut A tiba-tiba kena pukul atau didorong.

Tiap hari saya digelayuti perasaan bersalah. A juga berubah; dia jadi agak reserved seperti orang dewasa, padahal kan usianya baru 16 bulan! Senyumnya, sorot matanya berbeda. Ia nggak lagi spontan dan loud seperti umumnya batita.

Tidak semuanya jelek, kok. Pengasuh dan kepala sekolahnya amat baik dan sabar. Itu yang sangat menonjol dan saya berterima kasih banget sama mereka. Mungkin ini memang yang namanya belum jodoh.

Daycare rumahan ternyata nyaman

Bersamaan dengan pindahnya kami, saya pun mulai cari alternatif daycare lain di dekat rumah. Susah lho ternyata, entah kenapa titik di gmaps enggak pernah pas sama lokasi aslinya :))

Waktu saya jalan sambil cari daycare yang dituju, ada bapak-bapak catcalling “assalamualaikum cantik, mau ke mana?” Namanya juga butuh, saya samperin aja dia (dan doi tampangnya langsung kaget HAHA, mungkin takut didamprat). “Pak! Saya cari tempat penitipan anak di sini, yang mana rumahnya?” Eh, si bapak tahu, saya pun akhirnya nemu daycare rumahan yang dituju.

Daycare kedua ini beda banget sama pertama. Letaknya di rumah cluster yang luasnya sekitar 45-60 meter persegi. Selain set perosotan dan rumah-rumahan, tidak banyak mainan berserakan. Ibu kepala sekolah bilang, ia lebih suka anak-anak eksplorasi dan bersosialisasi.

Entah mengapa saya langsung “Ok lah kita coba.” Padahal dari segi fasilitas dan kurikulum, beda banget sama ekspektasi awal.

Seminggu di sana, A masih suka nangis. Dua minggu, lho kok dia mulai nge-geng sama anak-anak lain? Sekarang? Kalo dijemput malah cengar-cengir, nunjukin Ibu ini-itu. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Sisi goofy dan kocaknya juga muncul lagi–pertanda dia sudah nyaman banget di sana. Makannya banyak, malah jagoan Bunda-Bundanya yang bikin A doyan makan daripada Ibu :)) Perkembangan kata-katanya pesat, tau-tau bisa ngitung 1-10. Teman-temannya baik dan caring–nggak ada yang suka main fisik, alhamdulillah banget. Puji syukur tak terhingga.

Sebenarnya saya masih penasaran dengan satu daycare montessori di sini. Tapi saya nggak akan memaksakan rasa penasaran itu ke A. Biarlah dia di lingkungan yang membuatnya nyaman dan damai.

Kisah dari Rumah Tangga Minimalis

Di 2022 masih pakai iPhone 6S dan Samsung Galaxy Note 5 dengan kondisi yang masih bagus. Beli mobil bekas asal bisa jalan dan AC dingin. Tiap mau nambah barang diskusinya bisa sebulan.

Dua hal yang saya tahu ketika menikah dengan suami: 1) we most likely will be nomadic; 2) thus, we try to limit our possessions.

Keduanya berkaitan banget. Karena aspirasi karier suami kayaknya akan membawa kami berpindah-pindah–sementara kerjaan saya memang sifatnya remote–sepertinya kami belum akan beli rumah dan menetap di satu tempat dalam waktu lama. Karena itu, kami berusaha gak beli banyak perintilan supaya nggak susah kalo pindahan.

Saya sendiri juga biasa sih hidup berpindah-pindah sejak kuliah, tapi hidup bareng suami tuh rasanya kayak naik level lagi. Kalo dulu saya masih senang beli pernak-pernik, beli furnitur sesekali, sekarang buat beli satu barang aja kebanyakan mikirnya hahaha.

Observe your needs and pick wisely!

Saya dan D bukannya nggak punya keinginan. Sering banget kami ingin ini-itu dan uangnya juga ada, tahu-tahu “Ah, nggak usahlah. Nggak urgent.” Salah satunya adalah HP. Karena kerjaan kami laptop-sentris, ya udah deh HP gak upgrade ternyata gak apa-apa. Malah nggak kuatir kalo diambil bocil karena HP kami lumayan sturdy.

Di Melbourne dulu, kami cuma punya 3 pasang piring gelas untuk 3 orang. Furniture pun gak beli karena ada peninggalan penghuni lama. Beberapa barang dapat gratis hasil dumping day alias mungut barang orang yang tak terpakai di pinggir jalan :))

Di Indo, dengan kontrakan kosong, tentunya kami mesti beli ini-itu. D beli hal esensial duluan, misalnya kulkas, kasur, lemari baju, mesin cuci, dispenser. Untuk barang lain, penuh nego dan diskusi hahaha. Kami nggak punya banyak storage sehingga jumlah barang pun gak terlalu banyak (niatnya). Nambah beli 2 buah mug aja, mikirnya seminggu lebih. Beli reeds diffuser, wall decor dan sebagainya? Hanya berujung di keranjang marketplace lalu dikosongkan lagi. Nggak ada urgensinya.

Untuk furnitur? D men-challenge satu hal yang selalu kami jumpai: memangnya rumah itu wajib punya sofa dan TV? Sampai sekarang kami nggak pernah beli (atau merasa butuh) keduanya, lho. Nonton cukup dari laptop–toh palingan juga Netflix beberapa jam tiap malam. Sofa diganti kursi rotan ringan yang cukup nyaman dan mudah dibersihkan.

Di sisi lain, kalau ada barang yang dibutuhkan untuk jadi produktif, D pasti sigap membelikan. Laptop kami termasuk high-end karena laptop kan buat kerja (walaupun ujung-ujungnya mah pakai laptop kantor hahaha). Begitu saya mulai bekerja lagi, dia langsung ke IKEA dan membelikan set meja-kursi kerja lengkap dengan lightingnya.

Then, are you a minimalist?

Kami tidak mengklaim diri jadi minimalis, tapi beberapa unsurnya ternyata terpenuhi juga.

Kalau kata Joshua Nicodemus dan Joshua Fields Millburn, minimalism is a tool to rid yourself of life’s excess in favor of focusing on what’s important—so you can find happiness, fulfillment, and freedom. Tujuannya adalah untuk mencapai rasa merdeka; tak terkungkung oleh barang-barang di sekitar kita.

Today’s problem seems to be the meaning we assign to our stuff: we tend to give too much meaning to our things, often forsaking our health, our relationships, our passions, our personal growth, and our desire to contribute beyond ourselves.

Saya sendiri punya pengalaman melihat orang tua yang senang beli barang. Rasanya kok sesak ya, baik secara fisik dan mental. Makin banyak barang-makin sering harus beberes-makin harus beli storage… lingkaran yang tak ada hentinya. Rumah sampai penuh dari bawah sampai atas.

Titik balik saya mungkin ketika iBook saya dimaling di kosan semasa kuliah. Oh, ternyata barang yang penuh memori dan sangat disayangi itu bisa hilang begitu saja… dan ternyata hidup bisa tetap berjalan tanpanya. Sejak saat itu, saya berusaha mengurangi attachment ke barang-barang dan lebih menghargai pengalaman.

Apakah semudah itu menjalani gaya hidup ini?

Tentu tidak, Fergusooo. Tantangan terberat adalah menyesuaikan pola pikir antara kebutuhan sekarang dan masa depan. Kalo beli ini sekarang, nanti pindahan susah, nggak? Kadang, kami kelewat khawatir akan hari pindahan (yang entah kapan juga sih datangnya), sampai berdampak ke kenyamanan hari ini.

Di kontrakan pertama, kami sempat hidup kosong melompong alias gak punya furnitur yang membuat nyaman. Lama-lama capek lho hidup ngemper hahaha. Akhirnya saya memanfaatkan satu meja lipat jadi meja makan dan beli kursi rotan ringan yang mudah dipindah-pindah. Kalo takut repot di hari pindahan… ya udah deh gak bakal beli apa-apa jadinya.

Di sisi lain, pemikiran ini bikin kami lebih membatasi beli barang yang nggak perlu. Mainan anak, misalnya. Saya suka kepikiran, duh anakku gak punya mainan edukasi, pengen beliin mainan ini-itu biar dia happy…

… padahal belum tentuuu. Anakku lebih senang mainin bawang daripada main puzzle bayi. Mainan andalannya pun itu-itu aja. Jadilah saya beneran jarang banget beliin mainan… kayaknya lebih banyak hadiah deh daripada dibeliin Ibu Bapaknya sendiri hahaha. Oh ya, sejak ia bayi saya menerapkan rotasi mainan. Hal ini bisa membuat A lebih panjang fokusnya dalam bermain (kalo banyak tuh dia keblinger dan ujung-ujungnya berantakin doang) dan tentu saja Ibu gak capek beresinnya haha.

Choose your style!

Kami bukan penganut minimalis yang maunya serba putih bersih. D gak punya preferensi… sampe akhirnya pernah dia beli laci rak yang gonjreng banget warnanya :)) Saya sendiri seneng banget lihat desain rumah yang cozy, banyak tanaman dan tekstil mulai dari karpet sampai selimut di sofa. Pun lemari gede penuh dengan buku dan pajangan.

Rumah-rumah mid century boho gini lho impiankuuu

Tapiii tentu saja dengan gaya hidup nomaden, mau punya furnitur gede-gede gini malah nyusahin diri sendiri kelak :)) Akhirnya opsi berganti jadi pengrajin lokal (untuk jati belanda yang gak terlalu berat) dan IKEA/Informa tentunya. Kami masih punya beberapa tanaman untuk di rumah walaupun gak banyak, pun beberapa dekorasi kecil.

Sampai sekarang saya masih berusaha menyeimbangkan keinginan bikin rumah hangat dan membatasi beli-beli yang nggak perlu. Sejauh ini masih selaras sama suami, alhamdulillah–walaupun kalo mau nambah furnitur ya proposalnya mesti dari jauh-jauh hari hahaha.

Beginning of 2022: A Recap

Sebulan pertama di 2022, keluarga kami menjalani perubahan yang cukup drastis. Kadang rasanya kami terseok-seok, tapi akhir-akhir ini rasanya kami mulai bisa mengimbangi laju perubahan ini. Seru, ngos-ngosan, tapi untung gak sampai berurai air mata (kecuali A si batita yang sekarang mulai kenal big emotions hahaha).

Back to work!

Pertama, awal dari rangkaian perubahan hidup kami, adalah saya kembali bekerja! Gak nyangka banget tiba-tiba bisa dapat kerjaan yang sesuai dengan kemauan saya–menulis, WFH, dengan purpose yang harapannya impactful–gara-gara user saya baca blog ini! Rezeki memang bisa dari mana aja yaa, alhamdulillaah.

Pekerjaan tetap tentu mengubah ritme hidup saya dan A. Biasanya ya kami kruntelan aja berdua 24/7. Tapi saya takut nggak bisa memenuhi hak A untuk dapat perhatian penuh ketika saya bekerja. Saya yang sudah 2 tahun nggak kerja formal rasanya butuh waktu untuk adaptasi.

Belum lagi, dengan WFH, saya merasa tetap harus ngurus rumah, seenggaknya laundry, bebersih, dan masak. Kalau semua harus dikerjakan sendiri, yang ada pasti saya capek, A cranky, dan ujung-ujungnya malah berantem huhu.

Daycare lyfe

Setelah pertimbangan panjang, kami pun sepakat mencarikan daycare untuk A. Memang sejak hamil saya tuh pro daycare banget dibandingkan nanny. Tapi ternyata ketika menjalaninya, menitipkan A ke tempat lain, ternyata hati remuk juga hahaha. Yet, it is still the best option for us. A punya caretaker yang bisa memperhatikan dia lebih baik dibandingkan ibunya yang kudu multitasking; saya juga punya waktu untuk bekerja dengan energi penuh dan tetap ngurus rumah pula.

Datanglah perubahan kedua: penyesuaian A di daycare. Setelah survey, kami sepakat memasukkan A ke satu daycare dengan fasilitas super lengkap. Memang letaknya jauh. Waktu tempuhnya sekitar 20-30 menit dengan mobil–untuk ukuran kota yang gak pernah macet, waktu ini cukup lama ya.

Walaupun di atas kertas daycare ini terlihat paling OK, ternyata ada beberapa poin yang bikin kami mempertimbangkan ulang. Lalu, rezeki datang lewat perubahan ketiga…

Pindahan!

Well, pindah kontrakan sih karena kami belum mau beli rumah di kota ini hahaha. Sudah lama sih punya niat pindah ke kontrakan yang lebih baik, tapi dikalahkan mager tak berujung. Tahu-tahu dari jalan-jalan sore random, kami menemukan rumah yang fasilitasnya jauh lebih baik namun harganya masih masuk budget banget. Deal-nya juga berlangsung mulus. Maka mendadak kami pun siap-siap pindahan…

… tapi A mendadak sakit. Kayaknya sih flu biasa ya, karena swab bapaknya negatif. Tapi sakitnya lumayan lama: demam sekitar 4 hari naik-turun, batuk-pilek pula. Tentunya makin clingy ke Ibu–yang mana jadi tantangan karena saya tengah adaptasi kerja pula.

Akhirnya A pun kena screen time deh… kenalan sama Sesame Street, Tayo, In The Night Garden, Me and Moon… *sigh*. Dan entah apakah dari screen time, fear of separation, atau kombinasi berbagai perubahan, mood A cenderung jelek. Huhuhu. Riwil, gampang marah, gampang frustrasi… oh such big emotions in such a small body.

Ketika akhirnya ia baikan dan masuk daycare lagi, saya merasa kok kayaknya kita mesti cari alternatif yang lebih sehat untuk semuanya. Setelah survey, ternyata ada daycare rumahan yang cukup terkenal di cluster seberang. Oh Alhamdulillah… akhirnya A pun pindah daycare lagi.

Ajaibnya, di daycare dengan fasilitas yang lebih sederhana ini, ia malah lebih betah. Makannya pintar, gak bisa diem of course (hahaha), lebih ramah dan someah. Bahkan A sampe bisa SKSD sama ortu anak-anak lain–sementara di daycare sebelumnya, selalu nangis bawaannya. Yang tadinya kurus banget, sekarang sudah mulai lebih berisi.

Begitulah kisah yang cukup naik-turun di bulan kemarin. Sekarang, roller coasternya bergerak lagi–kami tengah isoman hari ke-6 karena kena Covid-19. Hehehe. A bergejala demam, batuk, dan meler, sementara saya serta suami tak bergejala. Semoga ujian ini cepat berlalu ya… stay safe everyone!

Resep Mie Daging Uyghur

Satu kuliner yang saya rindukan sekali dari Melbourne adalah makanan khas Uyghur! Di pusat kota, terdapat restoran Dolan Uyghur yang terkenal sekali di kalangan keluarga pelajar Indonesia. Selain terjamin halal, rasanya unik dan sedap. Menunya didominasi daging kambing dan sapi. Namun, karena ditulis dengan huruf mandarin, saya jadi gak tahu nama makanannya. Asal tunjuk nomor menunya saja. Mungkin dulu pernah tanya, sih, tapi lupa namanya huhuhu.

Menunya begini, jadi saya tinggal tunjuk aja no 33
Look at these beauties!

Pilihan favorit saya dan banyak orang adalah kambing panggang dan mie daging. Kambing panggangnya lembut, tidak bau, rasanya agak pedas dengan hint cumin alias jintan putih. Konon cumin ini jadi salah satu rempah yang kerap digunakan di kuliner Uyghur.

Beberapa waktu lalu saya ngidam banget mie dagingnya. Rasanya pedas, berempah (tentu dengan cita rasa jintan putih), berminyak namun tak bikin eneg, dan ada kesegaran crunchy dari paprika. Ubek-ubek google untuk cari resepnya… tapi gak nemu yang persis sama seperti di Dolan Uyghur. Kebanyakan resep laghman (mie) menekankan pada sayur daripada daging. Bumbunya pun berbeda-beda. Tapi kalo nggak dicoba, pasti penasaran terus.

Ya sudah, mari berkreasi sesuai keterbatasan bumbu, rempah, dan pengetahuan hahaha. Oh ya saya juga belum pake jintan putih karena gak nemu di supermarket sini — dan lupa terus mau order online.

Dua kali trial dengan bumbu yang berbeda, ternyata yang kedua ini rasanya sudah miriiip banget sama Dolan Uyghur. Finally!

Tampangnya kurang coklat tapi rasanya sudah miriiip!

Menu untuk 2 porsi uyghur noodle

  • 250 gram daging sapi, potong tipis –> bisa diganti kambing tapi saya belom bisa masak yg ga bau LOL
  • 1 batang kayu manis
  • 1/2 sdt jintan hitam (mestinya jintan putih)
  • 2 kapulaga
  • 1 batang kayu manis
  • 1 cengkeh
  • 1 ruas jahe
  • 1 sdm chilli oil, saya pakai Imperial Kitchen
  • 1 sdm kecap manis
  • 1 sdm kecap asin
  • 1/2 sdt minyak wijen
  • garam
  • 1/2 bawang bombay
  • 2-3 siung bawang putih, potong tipis
  • 1/2 paprika, potong tipis
  • minyak sayur untuk menumis
  • 2 porsi mie sesuai selera (mie telur pipih kering/basah atau udon)

Langkah memasak

  1. Rebus mie sampai matang. Setelah matang, buang airnya, tuangkan minyak supaya tidak lengket. Sisihkan.
  2. Panaskan minyak, masukkan bawang putih dan bombay, tumis sampai wangi.
  3. Masukkan daging dan tumis sampai kecoklatan.
  4. Masukkan rempah, chilli oil, minyak wijen, garam, kecap manis dan asin, paprika, tumis beberapa menit jangan sampai layu.
  5. Masukkan mie ke tumisan dan aduk rata. Koreksi rasa.
  6. Sajikan selagi hangat, lebih mantap ditemani teh hangat ❤

Tentang A dan Bahasa Indonesia

Sebelum A lahir, saya sudah meniatkan pakai OPOL (one parent one language). Saya bahasa Indonesia, suami bahasa Jawa. Melihat anak-anaknya saudara dan teman, saya menaksir A akan terpapar bahasa Inggris banyak sekali, dari bacaan, tontonan, dan, kemungkinan, sekolah. Tapi ia harus tahu identitasnya: orang Indonesia.

OPOL ini belum berjalan lancar, sih. Karena saya dan suami berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, jadi ia juga berbahasa Indonesia pada A. Ya sudahlah. Setidaknya di usia 13 bulan ini, A sudah bisa bilang bapak, ‘ka (buka), mamam, gajah, ‘ca (baca), kakek, kakak, mama, mbu… apa lagi ya (ibu yang tidak detail ya hahaha). Bahasa Jawanya nih yang masih pe-er.

Kenapa sih ngotot banget A mesti kudu ngelotok berbahasa Indonesia? Toh anak-anak kecil sekarang banyak yang lebih fasih bahasa Inggris dan mereka baik-baik saja?

Kalau dirunut, keputusan saya mau punya anak tuh datang dari sebuah pulau kecil di selat Karimata. Pulau Pelapis namanya. Kebanyakan penduduknya adalah orang Melayu, pelarian dari Bangka pada zaman penjajahan Jepang.

Sebelum saya menjalankan KKN di Pelapis, saya tuh bisa dibilang anti-anak kecil. Tipikal yang cuek, gak peduli, gak ngemong. Kaum childfree karena merasa males aja ngurusin anak-anak hahaha.

Begitu tiba di Pelapis, banyak sekali anak-anak yang penasaran dengan para pendatang ini — apalagi kami adalah mahasiswa pertama yang bisa menjalankan KKN di sana. Selain bikin kelas sore yang isinya nyanyi-nyanyi dan perkenalan wawasan kebangsaan (program KKN sih, bukan maunya saya HEHE), kami juga acapkali nongkrong dengan anak-anak usia 3-12 tahun di sana. Hahaha.

Berkenalanlah saya dengan individu-individu berbadan kecil tapi hatinya luar biasa besar. Hari-hari saya diisi celetukan dan tingkah laku kocak mereka. Ada Fira, si bocah 5 tahun yang hobinya dangdutan dan manjat pohon. Ada Dewi, anak kelas 4 yang sudah kayak tour guide kami di sana. Rizaldi, si kelas 6 yang maksa pinjam kacamata saya, lalu, “aduh, pandanganku bepencar!” Hahaha. Di Pelapis saya baru sadar, oh, anak-anak itu amat menyenangkan ya!

Pelapislah yang mengubah saya. Sejak Pelapis, tiap kerja lapangan, saya menyempatkan diri bergaul dengan anak-anak. Saya sampai punya “anak” di Sumba Timur, Cece. Anak 3 tahun yang teramat manis, rasa ingin tahunya besar, dan otaknya yang seperti spons menyerap apa saja yang saya lakukan. Mulai dari main bareng di kebun sampai ikut rapat dengan mama-bapak setempat, Cece adalah bayangan saya. Having a carefree child like Cece would be such a blessing.

Pulang sekolah! Maubokul, Sumba Timur, 2017

Lalu, hubungannya dengan bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia adalah perekat saya dengan anak-anak di atas. Kami tak mengerti bahasa daerah masing-masing, tapi kami bisa berkomunikasi lewat bahasa ini. Di banyak daerah, bahasa ini adalah lingua franca, bahasa pemersatu. Alor, misalnya. Dihuni puluhan suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda, bahasa Indonesia adalah bahasa yang dimengerti semuanya.

Saya nggak tahu A akan tumbuh besar di mana, tapi saya ingin ia bergaul dengan siapa saja. Belajar dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Kalau ada rezeki, bahkan ke pulau-pulau jauh, lebih dari ibunya. Berbahasa Indonesia yang baik adalah kuncinya. Gak usah deh, ketemu anak Sumba. Ngobrol sama abang ojek aja lebih nyambung pakai bahasa Indonesia, kan? Walaupun cuma “hah” “oh iya-iya bang” “ooooh” karena gak kedengeran, hahaha.

Saya berharap, dari pergaulannya, A bisa mengerti bahwa hidup begitu megah namun sederhana. Dan saya berdoa ia punya hidup yang bermakna tak hanya bagi dirinya tapi juga bagi sesama. Layaknya namanya, yang berarti “pemimpin yang membawa kesejahteraan bagi orang lain”.

Well, soal bahasa ini bisa nyambung ke pandangan hidup juga, termasuk melihat kelas dalam masyarakat. Saya beberapa kali — walaupun gak menggeneralisasi ya — ketemu anak kecil yang menganggap dirinya superior karena ia berbahasa Inggris. Orang-orang yang gak bisa bahasa Inggris lebih rendah kastanya. ART, pengasuh, sopir… bahkan kakek-nenek. “Payah banget sih gak bahasa Inggris!”

Oh, saya gak mau A jadi anak seperti itu. Saya harap ia tumbuh rendah hati, bisa belajar dari orang-orang yang mungkin cuma bisa bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Tugas panjang bagi bapak-ibu untuk mewujudkan hal ini. Semoga bisa jadi anak yang luwes dalam berbahasa, bergaul, dan belajar ya, A-ku sayang ❤

A Jalan Kaki!

Di usianya yang 13 bulan, A masih memilih untuk merangkak. Belajar jalan pun maunya mendorong kursi/galon, gak mau ditatih. Kadang ada keluarga yang “ayo A, jalan!”, tapi saya sendiri santai aja. He will walk in his own term. Terlebih lagi, kalau baca @vijclinic, anak justru mesti banyak distimulasi lewat merangkak, bahkan ketika dia sudah bisa jalan.

Kayaknya memang saya akan jadi ortu santai untuk hal-hal yang tidak prinsip, deh. Saya bukan ortu ngoyo untuk milestone fisik A (walaupun tentu harus tau ya batas usia maksimum dan red flag-nya tiap milestone). Kami berusaha menstimulasi, tapi gak memaksa. Biarkan dia memutuskan maju pada waktunya. Toh tiap hari ada progress kecil, baik secara fisik, psikis, maupun mental.

Lalu tibalah pagi ini. Entah mengapa saya kok laper banget padahal masih jam 10-an, jadi saya makan nasi goreng sambil mengawasi A main. Eh si bocah kayaknya ngiler. Tadinya ia main-main dispenser (kenapa sih seneng amat main air, Nak?), lalu sambil cengar-cengir, ia melangkah menuju wadah nasgor! Dua langkah, tepatnya. Ya ampuuun, anak siapa ini kok motivated by food? Hahaha.

Ibu senang karena A sudah mau unjuk kebolehan, A pun senang jatah snack buahnya diganti nasgor Ibu. Win-win solution semuanya.

On Motherhood: Sleep Training Edition

Disclaimer: sleep training journey ini berdasarkan pengalaman saya dengan A, yaa. Tentu pola tidur bayi beda-beda dan orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya.

Namanya orang tua baru, pasti dipesankan: siap-siap begadang, ya! Bahkan dari hamil saya sudah diwanti-wanti, puas-puasin tidur sebelum nantinya gak bisa tidur sama sekali hahaha.

Berhubung waktu hamil saya kenyang baca buku Pamela Druckerman dan selalu merujuk BabyCenter dan What To Expect, saya pun percaya bahwa sleep training itu penting sekali untuk orang tua dan bayi. Babies need to soothe themselves to sleep! Parents deserve good night sleep to function properly!

Fase newborn, ya udahlah yaa A bangun (atau saya bangunkan untuk nyusu) tiap 2-3 jam. Saya pun agak ambisius nyusuin karena A kuning, harapannya bilirubin cepet turun kalo ia rajin nyusu dan buang air.

Suatu hari di usia 1 bulan lebih, A tidur ketika maghrib. Loh kok lama tanpa bangun-bangun nangis? Bisa bablas 5-6 jam tidur.

Keesokannya kami mengondisikan A supaya tidur selambat-lambatnya jam 7 malam. Caranya, A nyusu lalu digendong bapaknya sampai tidur. Jam biologisnya pun bekerja. Begitu gelap, ia pun akan ngucek-ngucek mata, mengantuk. Bahkan kalo mendung, jam 5 sore juga sudah rewel mau tidur. Konsekuensinya memang dia bangun pagi banget, jam 5-6an, yang mana bapak ibu kadang masih teler hahaha.

Menurut literatur yang kami baca, ritme tidur bayi adalah 45 menit dari light sleep-deep sleep-light sleep lagi. Karena bayi belum bisa menyambungkan periode tidurnya, mereka seringkali terbangun setelah 45 menit ini. Bayi minta kenyamanan untuk bisa tidur lagi, entah dari minum susu atau digendong. Kalau merujuk teknik cry it out dari dr Ferber, ini yang mesti dihindari. “Don’t spoil your baby,” katanya.

Dikombinasi dengan tekniknya orang prancis, kami menerapkan “the pause” alias diemin dulu beberapa menit untuk tahu situasinya: minta nyusu, ganti popok, atau sekadar ngelindur di antara 2 periode tidur? Mestinya dia akan bisa menyambungkan sendiri tidurnya seperti orang dewasa yang suka terbangun lalu kembali tidur lagi. Tapi A nggak gitu — seringnya ya nangis terus sampai diangkat, disusui/ganti popok.

Bapak Ibu pun mempertanyakan diri sendiri. Bener gak nih teknik sleep training kita? Mana nih sleep thru the night? Mana nih bayi yang katanya bisa tidur sendiri kalo ditaro di crib dalam keadaan ngantuk — drowsy but awake?

Saya pun hidup dalam status siaga aka survival mode kalo malem. Bawaannya siap-siap bangun untuk ambil A dari crib-nyusuin/ganti popok/gendong A (walaupun selain nyusuin sih bagi tugas sama suami)-taro A lagi kalau sudah tidur. Capek, pasti. Masih untung gak kena baby blues.

Begitu suami pindah kota untuk WFO, saya cuma ngurus A sendirian, wow tambah-tambah lagi deh self doubt-nya. Di satu sisi saya keukeuh mau asuh A sendiri. Tapi di sisi lain jadinya capek, rungsing, gak sabaran. Kok gak sehat ya bagi kami berdua.

The saviour

Saya tau banget sih sebenernya eksposur medsos itu bisa membantu, tapi juga bisa bikin insecure. Mom’s gut feeling alias insting ibu tertutup oleh informasi yang luber. Mulailah saya membenahi diri sendiri. Merefleksi lagi cara parenting saya bagi si bayi. Juga pikir ulang lagi tentang bagaimana sih saya ingin membesarkan A. Goal-nya apa? Apakah segala kemandirian yang saya inginkan untuk si bayi sebenarnya belum memadai untuk anak seusianya?

Pertama saya belajar lagi hal terdasar: kenapa bayi bangun dan menangis? Tentu karena ada yang mengganggunya dan ia belum bisa mengatasi hal itu. Mulai dari lapar (saya lupa, bayi ASI kan memang perutnya cepat kosong, sementara bayi di Perancis banyak yang pake sufor yang lebih mengenyangkan), mimpi buruk, kedinginan/kepanasan…

Saya gak memungkiri, saya belum bisa puasa medsos karena itulah saluran saya bersosialisasi. Maka yang bisa saya lakukan adalah kurasi following dan tab explore. Di sinilah saya ketemu para penyelamat hidup yang menyadarkan saya bahwa memang fitrahnya bayi tuh butuh pertolongan orang dewasa. Nangis adalah cara komunikasinya. Bayi bisa kok diam sendiri, tapi bukan karena self soothing — tapi karena dia tahu bahwa gak ada yang akan datang menolongnya 😦

Salah satu pencerah saya adalah @heysleepybaby yang meredefinisikan sleep training. Selama ini saya suka bertanya-tanya, A di crib terpisah tuh buat apa sih? Dia kedinginan gak kalo malem sendirian di sana? Ternyata itu juga yang dipertanyakan oleh Rachael, si pemilik akun yang berprofesi gentle sleep trainer dan pengajar ABK. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan peneliti sleep training adalah laki-laki (hi dr Ferber dan cry-it-out method!) yang approach-nya beda dalam pengasuhan bayi. Ketika ibu ingin terikat sama bayi, peneliti laki-laki yang memegang nilai-nilai patriarki justru menginginkan bayi mandiri secepatnya. Orang tua bisa tidur nyenyak, bapak bisa “memiliki” ibu untuk hubungan seksual.

Namun pandangan kebanyakan bangsa di dunia ya sebaliknya. Bayi memang nempel sama ibu. Co-sleeping is the rule in most societies; bahkan banyak juga masyarakat di mana bapak tidur terpisah dari ibu dan anak. Dan tidur bareng bayi (tentu dengan memperhatikan keamanannya ya) memberikan mutual benefit bagi bayi dan ibu. Bayi nyaman, ibu pun gak capek bolak-balik angkut bayi.

“Ih ke mana ajaaa,” begitu mungkin komentar ibu saya dan orang tua di generasinya :)) Dari dulu juga bayi tidur sama ibu bahkan ada juga yang rame-rame sama neneknya.

Tapi yang saya lihat, banyaaak sekali teman-teman segenerasi yang terjebak kebingungan yang sama: butuh bayi tidur sementara orang tua bisa melakukan hal lain. Apalagi yang tinggal cuma bareng pasangan tanpa pengasuh atau ART. Kalo ngikutin ritme bayi yang demanding, gimana mau kerja, ke kamar mandi aja buru-buru?

A’s sleep development

Gentle sleep training ternyata bukan berarti mengikuti ritme bayi tanpa strategi. Salah satu tekniknya yang berhasil di A adalah contact nap. Untuk tidur siang, saya menyusui A sampe ketiduran/dia ngantuk, gendong sebentar, dan ketika sudah lelap, saya pindahkan ke crib. Ternyata A bisa tidur lumayan lama. Memang butuh usaha yaa, namanya juga menghadapi bayi.

Untuk tidur malam, biasanya A saya susui dalam posisi tidur. Lama-lama ia tahu ini memang jam tidurnya. Jadi abis nyusu, langsung balik badan, bobo. Masih bangun-bangun kalau malam, terutama di fase wonder weeks. Kadang hanya butuh nyusu, kadang mesti digendong karena kok kayak nightmare. Secara keseluruhan, tidurnya membaik walaupun ga serta-merta bablas 8 jam tanpa bangun. Menurut para gentle sleep trainers, fase tidur memang akan membaik seiring waktu, biasanya di usia 1,5 tahun sudah bisa tidur panjang.

Perlahan saya mulai dapat jam tidur yang dulu hilang. Waktu hamil bisa 8 jam tidur, di fase newborn dan sleep training awal mungkin 4-5 jam saja, sekarang bisa lah dapet 7 jam walaupun ada bangun-bangun sedikit.

Namun pola pikir dan perspektif baru membuat saya jauh lebih enteng menjalaninya. Babies needs us and you can’t spoil them — their crying is not to manipulate you but merely to ask for help. Tadinya anxious dan ga sabar karena “kok A ga bisa self-soothing” jadi ikhlas dan pengen sayang-sayang A melulu bahkan ketika ngantuk berat, karena tahu nangis adalah cara A untuk minta bantuan caretaker-nya.

Nulis gini aja merasa bersalah dulu sempat ngebet banget sleep training A. Huhuhu. Semangat ya para ibu bapak dalam menghadapi bayi dan jam tidurnya.

Stroller Review: Cybex Eezy S Twist 2

Sebagai tim hamil di kala pandemi, saya gak terlalu mementingkan keberadaan stroller untuk bayi. Pertimbangannya, bayi akan jarang banget pergi, kalaupun ke dokter misalnya, lebih nyaman digendong saja. Akrab deh kami dengan gendongan. Sampai ketika… kok badan pegel-pegel melulu ya tiap hari? Mungkin karena gendong A melulu sepanjang hari? Butuh stroller deh kayaknya kita?

Hahaha jadi beli juga deh akhirnya. Pemakaiannya akan berkisar di indoor (rumah) dan outdoor (halaman paving block, jalanan aspal yang gak terlalu mulus). Seperti biasa, saya banyaak banget maunya sampai-sampai tiap hari sibuk lihat review. Kriterianya:

  • reversible, saya merasa lebih aman bayi menghadap orang tua aja biar gak overwhelmed
  • gampang fold-unfold dan lipatannya kecil, preferably cabin size
  • gampang dibersihkan
  • enteng
  • 5-harness belt tentunya
  • gak banyak perintilan
  • suspensinya bagus
  • modelnya yang lucu deh biar seneng pakenya lol
  • budget maksimal 8-9 jutaan

Sebelum menyusun kriteria itu tadinya saya udah naksir Babyzen Yoyo. Gak jadi deh karena dia cuma bisa forward facing kalo udah gak pake bassinet.

Berpetualanglah saya di lautan review emak-emak, sementara suami pergi ke mall buat cek barang secara offline. Saya punya beberapa kandidat, mulai dari Joie Mirus dan SMA Baggi (tapi kalo dilipat masih besar ukurannya), Cocolatte Reversee & Versee (merk ini banyak deh yang reversible, tapi sampe sekarang saya gak tau Cocolatte merk mana sih?), Cybex Eezy S Twist, Melio, Balios (banyak pilihan juga), Aprica Karoon, sampai Bugaboo Bee (tapi kurang ridho sih ngeluarin duit segitu hahaha). Suami juga punya kandidat sendiri, dia cinta banget sama Nuna Mixx & Triv. Mindset-nya, stroller rodanya mesti gede biar sturdy. Kayaknya gara-gara di Melb kebanyakan stroller ya model begitu. Ya ampun Pak, beratnya ku ga tahan (dan ukuran fold-nya besar).

Dari kandidat-kandidat itu saya filter lagi. Kami memilih stroller yang reversible seat aja supaya manuvernya lebih enak dibandingkan reversible handle. Lalu cari yang gak perlu lepas-pasang kursi, jadi tinggal putar saja. Ada Cocolatte Reversee dan Cybex Eezy S Twist. Tahu-tahu saya ketemu lagi dengan Cybex Eezy S Twist 2. Bedanya dengan versi pertama, ada footrest dan ada bumper jadi lebih aman. Bentuk cover dan seat-nya pun lebih cantik terutama kalau posisi full recline. Cabin size pula, cocok sama kami yang mobilnya city car kecil.

Saya sempat galau sih. Pertama, brand ini jarang yang pakai, beneran bagus gak ya? Kedua, harganya lumayan, walaupun awalnya mau splurge tapiiii buat sehari-hari doang kayanya bisa deh beli yang murahan dari ini. Suami bilang, ya udah beli aja sih daripada nyesel, ya udah deh HAHA butuh afirmasi doang ternyata.

Frame dan seat-nya kecil yaa

First impression: enteng banget kusukaaa! Bayangkan dari yang tadinya saya udah hopeless bakal beli Nuna belasan kilo, sekarang pake stroller cuma 6kg-an aja. Ada A di dalamnya pun saya masih bisa angkat hahaha.

Selain itu, kelebihannya:

  • fold-unfoldnya gampang
  • lipatannya kecil! Ga menuh-menuhin bagasi
  • suspensinya nyaman, bahkan di aspal yang tidak rata. A sering banget ketiduran kalo diajak jalan-jalan
  • manuver ok, di rumah yang penuh barang pun bisa nyelip-nyelip lincah cem bajaj
  • ada laci tertutup di bagian belakang seat buat naro barang-barang bayi
  • desainnya walaupun kaku surprisingly saya suka lol

Tapi minusnya juga ada:

  • seat-nya kecil dan sempit. A yang baru 6 bulan aja bisa terlihat “penuh” di dalamnya
  • bagian sampingnya gak ada penghalang! Agak ngeri kalo A udah miring-miring
  • seat belt kurang nyaman buat bayi kecil yang belum bisa duduk tegak. Letak shoulder pad-nya terlalu tinggi buat bayi (padahal diklaim bisa dari newborn), setting seat belt-nya juga agak ribet
  • di kanopi gak ada jendela untuk ngintip anak di kala forward facing

Cybex Eezy S Twist 2 ini saya beli dengan harga Rp5,1 juta. Kalo di Birds&Bees sekitar Rp5,7-Rp5,8 jutaan.

Is it worth the money? Yesss buat yang cari reversible seat, cabin size, dan nyaman digunakan di permukaan tidak rata! Lumayan banget ada alternatifnya Yoyo versi lebih murah dan praktis hahaha. Hope this review helps!